<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PROTAGON</title>
	<atom:link href="http://protagon.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://protagon.wordpress.com</link>
	<description>ExtraTerrestrials, Islam dan Seni</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Dec 2008 01:52:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='protagon.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PROTAGON</title>
		<link>http://protagon.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://protagon.wordpress.com/osd.xml" title="PROTAGON" />
	<atom:link rel='hub' href='http://protagon.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>FROZEN EMOTIONAL ATTITUDE TEREXPRESSI PADA KREASI PARA SENIMAN YANG BERMADHAB “ESTETISME”</title>
		<link>http://protagon.wordpress.com/2008/10/29/frozen-emotional-attitude-terexpressi-pada-kreasi-para-seniman-yang-bermadhab-%e2%80%9cestetisme%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://protagon.wordpress.com/2008/10/29/frozen-emotional-attitude-terexpressi-pada-kreasi-para-seniman-yang-bermadhab-%e2%80%9cestetisme%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 03:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gondewa66</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[affandi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad sadali]]></category>
		<category><![CDATA[bagong kussudiarjo]]></category>
		<category><![CDATA[basuki abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[dedy suardi]]></category>
		<category><![CDATA[estetisme]]></category>
		<category><![CDATA[frozen emotional]]></category>
		<category><![CDATA[mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[popo iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[rembrant]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://protagon.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dedy Suardi A B S T R A K Lord Brain[1] menandaskan bahwa manusia yang tak memperhatikan lagi segi-segi moral dan spiritual dari kehidupannya karena terlampau mementingkan kehidupan lahiriah saja, merupakan manusia yang dihinggapi penyakit yang ia sebut “Frozen Emotional Attitude”. Mereka semua memerlukan re-edukasi emosional. Lantas bagaimanakah caranya memberi mereka re-edukasi emosional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=20&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5 style="text-align:justify;">Oleh : Dedy Suardi</h5>
<p style="text-align:justify;"><strong>A B S T R A K</strong></p>
<p><em>Lord Brain</em>[1] menandaskan bahwa manusia yang tak memperhatikan lagi segi-segi moral dan spiritual dari kehidupannya karena terlampau mementingkan kehidupan lahiriah saja, merupakan manusia yang dihinggapi penyakit yang ia sebut <em>“Frozen Emotional Attitude”</em>. Mereka semua memerlukan re-edukasi emosional. Lantas bagaimanakah caranya memberi mereka <em>re-edukasi emosional</em> tersebut? Jaques Barzun[2] menandaskan: <em>“Restore God to the fullness of His Reality”.</em></p>
<p>Sikap batin yang beku tersebut sering melanda para seniman yang di puncak <em>menara gading</em> kesenimannya, secara eksklussif berkoar-koar mengatakan dengan angkuhnya bahwa seni cumalah untuk seni semata! Seni untuk kenikmatan diniawi semata! Mereka nyaris memberhalakan nilai-nilai estetis, dari mulai kaidah-kaidah estetik yang dibakukan oleh segelintir pemikir seni seperti <em>Golden Section</em> misalnya, hingga faham <em>Estetisme</em> yang menghalalkan segala cara berkesenian, kendatipun jelas-jelas melanggar norma-norma keagamaan yang dipeluknya!<span id="more-20"></span></p>
<p>Tulisan ini sekedar penggambaran kembali, betapa seni, dalam hal ini khususnya seni rupa, lewat berbagai coraknya, telah mengalami perjalalan cukup panjang tatkala meronta-ronta ingin menjumpai sesuatu nilai keadiluhungan, namun pencapaian religiositas keadiluhungan transendentalnya masih perlu dipertanyakan!</p>
<p>Sejak <em>Golen Section</em>[3] mencanangkan suatu doktrin keindahan yang membakukan bahwa bidang lima berbanding delapanlah (5:8 bagi lebar dan tinggi) yang dinilai paling estetis, maka para seniman di saat itu mulai tidur lelap dalam stagnasi kreativitasnya. Mereka  tertipu mentah-mentah oleh apa yang disebut pemaksaan citra rasa yang digaung-gaungkan oleh kepongahan kelompok seniman eksklusif yang merasa memiliki legitimasi mutlak di dalam memberikan penilaian final bagi keindahan-keindahan yang rupawi. Golden Section yang diinspirasi oleh kaidah-kaidah matematik pada konstruksi piramid di negeri Cleopatra (Mesir Kuno), ternyata telah <em>berjaya</em> selama dua abad lebih di dalam menularkan citra estetis yang seragam namun sempit, ke dalam dunia seni rupa yang masih terpukau oleh hal-hal yang spektakuler formal; dalam artian bahwa, yang dianggap estetis oleh orang-orang tingkat atas, secara otomatis akan menjadi patokan rasa seni bagi orang-orang  di tingkat bawah.</p>
<p>Golden section (kesetangkupan keemasan)  tersebut sempat dikategorikan ke dalam bentuk  <em>estetis matematis</em> oleh sebahagian pengamat seni yang cuma memberikan nafas lega bagi citra keindahan yang obyektif arsitektural. Padahal, bukankah seni merupakan manifestasi dari getar batin manusia yang ragam penuangannya tak mungkin dibatasi oleh takaran-takaran ruang dan waktu (termasuk proporsi bentuk dan anatomi), atau dibatasi oleh “kemestian” media dan keniscayaan teknik? Atau dalam gaya bahasa langit, bukankah seni merupakan rotasi-rotasi getar haru manusia yang diorbitkan lewat berbagai <em>falak</em> kreativita, yang tak puas-puasnya bergerak dan berkembang ke segala arah?</p>
<p>Proporsi bidang segi empat yang tinggi dan lebarnya 2:3 atau 3:5 atau 5:8 tak mungkin disetarakan dengan indahnya lengkungan pelangi di langit sore yang mempesona bagi setiap orang yang memandangnya. Perbandingan ukuran bendawi tersebut cuma sebuah alternatif saja dari jutaan alternatif yang menggenahkan perasaan manusia, sebagaimana halnya yang satu menyukai warna biru namun orang lain menyukai warna merah, dsb. Walaupun pada kenyataannya, bangunan Parthenon yang menurut kabar burung tataan arsitekturalnya menggunakan Golden Section, nyaris dikagumi setiap orang. Namun itu kan cuma kekaguman pada kedahsyatan benda-benda bersejarah saja, sebagaimana halnya tatkala kita mengagumi candi Borobudur dan Prambanan!</p>
<p>Seni adalah unik! Tatkala Basuki Abdullah lewat visi estetiknya melukiskan seorang wanita cantik yang dipercantik lagi seribu kali, sebaliknya Affandi yang telah tua renta gayeng-gayeng saja melukiskan seorang peminta-minta yang berkaki kudisan dalam kekumuhan suasana apa adanya, dengan teknik plototan catnya yang spontan dan sama-sekali tak cantik dan tak bernilai estetis. Basuki tak mungkin</p>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/basuki-abdullah-keluarga-berencana.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-18" title="basuki-abdullah-keluarga-berencana" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/basuki-abdullah-keluarga-berencana.jpg?w=300&#038;h=238" alt="" width="300" height="238" /><br />
</a>Basuki Abdullah yang berjiwa romantis, melukis kuda pun menjadi cantik, apa lagi jika ia melukis obyek figur wanita. Kesan beauty tersirat dari perindahan bentuk dan pemilihan warna yang cemerlang. Keindahan pada sebahagian besar lukisan Basuki Abdullah merupakan keindahan yang estetis obyektif  ringan yang terkadang hampa dari pendalaman ekspresi. Judul lukisan “Keluarga berencana”, dengan teknik cat minyak di atas kanvas.</h6>
<p style="text-align:justify;">memaksa perupa lain agar melukis seromatis gaya naturalistiknya, sebaliknya Affandi pun tak mungkin ingkar dari visi kesenirupaannya yang ekspressif transendental, yang senantiasa khusuk mengadakan penggalian artistik ke dalam kenyataan hidup manusia-manusia kecil dan papa. Tatkala seorang Basuki Abdullah dengan mengenakan topi baret dan safari mahal berlengan pendek tengah asyik-asyiknya melukis nyonya mentri yang pipinya moleg berkebaya brokat seharga ratusan ribu rupiah di kota metropolitan, nun jauh di sana di kota gudeg,  seorang maestro seni rupa Indonesia bernama Affandi, dengan beralaskan sehelai tikar compang-camping tengah melukis seorang wanita tua renta yang susunya peot, dengan mengenakan sarung poleng dan kaos oblong yang telah kumal. Mereka berdua merupakan manusia beda yang visi berkeseniannya pun amat berbeda. Begitu pula alangkah  berbeda dengan Rembrandt van Rijn yang gemar mengemphasiskan “cahaya jendela” pada kanvas-kanvasnya, atau dengan Pablo Picasso yang doyan mengacak-ngacak anggota tubuh model-modelnya. Ternyata modal fitriyah, visi dan pewedaran batin manusia yang berbeda satu sama lain, telah memungkinkan munculnya berbagai madhab (aliran) yang sama sekali tak setangkup.</p>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-kuda-putih.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-22" title="affandi-kuda-putih" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-kuda-putih.jpg?w=300&#038;h=241" alt="" width="300" height="241" /><br />
</a>Affandi melukis kuda tidak dicantik-cantikan. Namun lebih menekankan pada pewedaran ekspressi dari binatang kuda itu sendiri. Goresan-goresan plototan catnya yang spontan dan dinamis dengan warna-warna yang terbatas, menjelmakan di atas kanvas sebuah lukisan dari kuda binal yang amat gamblang menghadirkan typering primernya. Judul lukisan “Kuda Putih”.</h6>
<p style="text-align:justify;"><strong>Estetisme yang jorok</strong></p>
<p>Namun perbedaan visi dalam bersenirupa di kawasan bumi yang penuh dengan kechaosan batin ini, telah memunculkan <em>seni riskan</em> yang niscaya pula membikin tatanan rupa yang chaotik. Pengaruh Victor Cousin dengan doktrin estetisme-nya nyaris menjerumuskan para pelukis bebas ke kubangan a-moral dengan dalih seni demi seni. Pelampiasan ekspressi berkesenian telah disalahgunakan oleh beberapa “oknum” perupa yang tak lagi menggubris batas-batas moral, lebih-lebih lagi agama. Seni rupa nyaris merupakan keasyikan sanggama bebas yang tak pantas tampil di hadapan masyarakat bermoral, sebagaimana bisa kita lihat pada karya- karya Max Beckmann1 berjudul  Ville de laiton yang dibikin tahun 1944 dan Triptyque de Persee yang dibikin tahun 1941. Kendati judulnya berbeda, kedua lukisan tersebut lebih pantas disebut sekedar pelampiasan obsesi sexsualistik belaka dari seorang perupa yang kecewa dengan ”serba larang” terhadap kebebasan berekspressi. Pisau pembunuh yang tajam teremphasis dilatarbelakangi wanita bugil dalam pose yang jorok. Dari kedua lukisan yang dipajang di Saarland Museum di Sarrebruck dan Museum Folkwang di Essen tersebut terpancar kekumuhan piktura yang penuh misteri yang terlampau riskan jika dinikmati oleh para appresiator timur yang memiliki kehalusan budi.</p>
<p>Faham estetisme sempat membikin kejutan di sekitar tahun delapanbelasan tatkala Carl Hofer membikin lukisan jorok yang berjudul Couple. Lukisan tersebut mempertontonkan dua sejoli telanjang bulat yang tengah melampiaskan birahi. Dan setahun kemudian seniman Emil Nolde pun membikin adegan yang sama pada lukisannya yang berjudul Le reveur2, yang melukiskan wanita telanjang bulat yang tengah merayu lelaki yang berbusana lengkap. Lantas tigapulussatu tahun kemudian Marc Chagall pun dengan gaya surialistiknya membikin lukisan estetismenya yang ia juduli Les ponts de la Seine.</p>
<p>Dan, estetisme yang berkesan “brutal” tersebut telah pula berjangkit di kalangan para senirupawan timur termasuk Indonesia. Wanita telanjang bulat dijadikan obyek lukis yang cukup merangsang di tahun lima puluhan hingga enampuluhan. Rasanya belum tabah disebut pelukis jika belum mahir melukis Nude. Doktrin “seni untuk seni” begitu mewabah di saat itu, sehingga nyaris menyisihkan nilai-nilai akhlak dan moral manusia timur. Nilai estetis yang dipancarkan oleh sebuah lukisan wanita bugil karya Amedeo Modigliani yang dijuduli Nu feminin3 yang dilukis tahun 1917, benar-benar telah merasuk ke kalangan senirupawan Indonesia yang mulai dipengaruhi ageman estetisme, sehingga terlukislah di atas kanvas berbagai bentuk deformasi figur telanjang yang diinspirasi oleh Nu feminin tersebut. Selain Nu femini, muncul pula judul Deux nus feminis yang dilukis oleh Edvard Munich, kendati tak sepopuler Nu feminin tersebut, bahkan pengaruh nilai estetik plastikismenya masih jauh dikalahkan oleh lukisan nudenya Alexei von. Jawlensky yang dijuluki Nu assis yang dibikin tujuh tahun lebih awal dari Nu feminin yang menggebrak dunia estetisme di barat maupun di belahan timur.</p>
<p>Bagi para perupa komersil sebagaimana Basuki Abdullah ataupun Saptohudoyo misalnya, lukisan wanita bugil karya Edvard Munich berjudul Madone4 yang dibikin tahun 1894 yang menghadirkan postur erotisisme, paling tidak, telah memberikan pengaruh besar ketimbang lukisan bugil yang berjudul Nus sous les arbres karya Franz Marc yang dibikin tahun 1911 dan bergaya impressionistik atau Nu debout sous les arbres karya perupa Otto Mueller yang dilukis tahun 1915.</p>
<p>Estetisme nudistik muncul pula di era dadais di antaranya terlihat pada karya Francis Picabia, kendati dadaisme sendiri – dalam ulah pemberontakannya &#8211; tak terlampau mengekspose keindahan yang estetis semata-mata, namun lebih cendrung menggaungkan visi keindahan yang lebih transendental non estetis, yang dimanifestasikan lewat simbol-simbol ataupun metafor-metafor yang menyatire kehidupan seni maupun sosial yang dianggap terlampau stagnan dalam pengembangan kreativitanya.</p>
<p>Pelukisan-pelukisan bugil dari figur wanita maupun pria di zaman kontemporer tak ayal lagi telah banyak dipengaruhi oleh karya-karya rupa pada zaman Baroque dan Seni Rococo seputar tahun 1600 hingga 1800, di antaranya sebuah patung monumental karya Lorenzo Bernini (1599-1680) yang dijuduli The Rape of Proserpina5. Lantas patung karya Claude Michel yang berjudul The Intoxication Wine yang dibikin dari bahan tera-cotta dan dipajang di Museum of Art.</p>
<p>Seni rupa modern Eropa telah banyak menmunculkan karya-karya nude dalam berbagai teknik seperti cukilan kayunya Aristade Maillol (186101944) yang berjudul Dalphnis and Chloe, lithographynya Picasso yang berjudul Nude Seated, lantas etsanya Ander Leonard Zorn (1860-1920) yang berjudul Wet, dsb. Dan semuanya masih bergelut dalam takaran keindahan yang esteis.</p>
<p><strong>Visi Transendental dalam Seni Rupa</strong></p>
<p>Visi transendental dalam seni rupa tak lagi terlampau menggubris elemen-elemen estetis semacam harmoni warna-warna, keserasian proporsi, keseimbangan fisik dan banyak lagi yang biasanya erat kaitan dengan estetika. Visi transendental melihat seni sebagai sesuatu keindahan apa adanya, tanpa dipola lagi oleh kepentingan-kepentingan rupawi yang seimbang menurut mata, genah menurut rasa, atau canggih menurut karsa, sebab transendental sendiri memiliki pengertian sesuatu yang sulit difahami, atau di luar pengertian dan pengalaman biasa.</p>
<p>Betis yang mulus itu bagus bahkan orang mengatakannya indah. Namun betis yang penuh kudispun ternyata diindahkan orang pula kendati dengan perasaan jijik. Namun demi kebutuhan artistika seni, betis yang penuh kudis tersebut berkat suatu idea yang “tak masuk akal” bisa saja menjadi inspirasi artistik selain wajah cantik, pemandangan indah, bunga yang beraneka warna, dsb. Menikmati keindahan betis penuh kudis merupakan hal yang tak masuk akal dalam kondisi yang normal. Namun setelah obyek betis kudisan tersebut ditransfer ke latar kanvas dan menjadi lukisan artistik, maka keindahan sisi lain akan hadir di ruang kesadaran kita. Pada saat itulah kita temukan keindahan transendental yang tidak estetis, sebagaimana juga tatkala kita mengagumi lukisan sudut-sudut yang kumuh, rumah reyot yang penuh sampah berbau busuk, dsb.</p>
<p>Menikmati keindahan lukisan Affandi, tak mungkin lewat kacamata estetika yang biasa. Kita lebih membutuhkan visi transendental ketimbang visi estetik tatkala mengamati karya Sang maestro yang menurut pengamatan awam bagaikan benang kusut tersebut. Begitu pula tatkala kita mengamati kucing-kucingnya Popo Iskandar, sketsa-sketsanya Rusli, lukisan-lukisannya Marc Chagall, dsb.</p>
<p>Tatkala Jeihan menjumpai idea artistik “mata bolong” yang terilhami lukisan figuratifnya Amedeo Modigliani, visi transendentallah yang ia temukan pada saat itu.</p>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-self-portrait.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-23" title="affandi-self-portrait" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-self-portrait.jpg?w=300&#038;h=217" alt="" width="300" height="217" /><br />
</a>Selfportrait Affandi yang melukiskan penderitaan panjang yang dialaminya, telah melontarkan typering primer seorang manusia yang memiliki mental baja. Kenikmatan mengisap cangklong terpancar dari wajah tua yang keriput. Mentari hitam yang melatarbelakanginya, silhuette wajah yang menjadi emphasis yang dominan, telah mencuatkan keindahan transendental yang sulit dinikmati orang-orang awam.</h6>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula tatkala Karel Apel mencipratkan warna-warni cat minyak dengan galaknya di atas kanvas besar yang bergetar-getar tertekan jari-jemarinya yang belongkotan. Emosinya yang binal pada saat itu, terenergi gerakan-gerakan bawah sadar yang tak mungkin dipola lagi oleh patern-patern estetika. Oleh sebab itu, kesibukan Karel Apel tatkala melukis, merupakan pintonan unik yang mengasikkan. Segenap anggota tubuhnya bergetar, ekspressi wajahnya pun seakan meraung-raung membagikan kelebihan emosi yang tak terwadahi kepada orang lain yang menyaksikannya. Tak berlebihan kiranya jika peristiwa seperti itu sudah boleh dibilang sebuah teater kecil yang memancing empathy secara berkesinambungan.</p>
<p>Hampir semua lukisan Willem de Kooning tak mungkin ditatap lewat kacamata estetika. Kebinalan melukis hampir setara dengan Karel Apel, cuma bedanya, lukisan Willem de Kooningl masih mengikatkan diri pada figur-figur sebagaimana halnya kita lihat pada karyanya yang berjudul Women I , sedangkan hampir semua lukisan Karel Apel bergaya abstraktionisme yang sama sekali tak menyertakan figur-figur.</p>
<p>Memang,  keindahan transendental tak senantiasa melekat pada setiap karya seni atau alam sebagai obyek seni. Sebuah batang pohon yang telah keropos dimakan rayap, bisa saja menghadirkan bentuk artistik (nyeni) kendati tak bernilai estetis samasekali. Andaikan seniman pekak terhadap getar transendental dari obyek yang telah dianggap sampah tersebut, maka dengan sedikit rekayasa seni, jadilah batang kropos tersebut menjadi benda “baru” yang memiliki nilai seni.</p>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/popo-iskandar-kucing.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-30" title="popo-iskandar-kucing" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/popo-iskandar-kucing.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /><br />
</a>Salah satu lukisan kucing Popo Iskandar yang tak diserap dari signal-signal keindahan obyektif.  Popo menyerap figur kucing secara kepekaan yang nonvisual, berbeda dengan lensa fotografi yang mampu merekam obyek natural yang normal. Visi seninya bukanlah sekedar visi estetik.</h6>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/mulyadi-kakak-beradik.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-28" title="mulyadi-kakak-beradik" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/mulyadi-kakak-beradik.jpg?w=300&#038;h=290" alt="" width="300" height="290" /><br />
</a>Berbeda pula dengan lukisan Mulyadi yang berjudul “Kakak-beradik” ini. Sang pelukis mewedarkan visi estetikanya lewat penglihatan Modigliani yang polos. Akan tetapi berbeda dengan lukisan Jeihan yang juga diilhami oleh  “mata bolor”-nya Modigliani, Mulyadi lebih menuangkan figur-figur gadis cilik lewat tataan rupa yang semi dekoratif-estetik. Namun visi estetika Mulyadi berbeda dengan visi “Estetisme” para perupa super bebas yang cenderung mengekspose Libidoisme Freudian. Dalam kata lain, lukisan-lukisan  Mulyadi kebanyakan memiliki nilai estetika tinggi, namun tidak estetisme!</h6>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, seni pada umumnya atau seni rupa pada khususnya, tak perlu kita klaim sebagai wahana estetis yang mesti sarat dengan nilai-nilai estetis, sebab arti dari estetik berbeda dengan arti dari kata artistik. Sesuatu yang artistik bisa saja memiliki keindahan yang transendental, oleh sebab itu, suatu yang artistik bisa saja tak memiliki nilai estetis samasekali; atau mungkin pula,  sebuah karya seni bisa saja memiliki keduanya sekali gus, ya estetis, ya transendental sebagaimana pada beberapa lukisan Pablo Picasso, Ferdinand Leger, Georges Braque, atau pelukis Indonesia Ahmad sadali, Bagong Kussudiardjo, dsb.</p>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/bagong-kussudiardjo-kekayon.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-25" title="bagong-kussudiardjo-kekayon" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/bagong-kussudiardjo-kekayon.jpg?w=293&#038;h=300" alt="" width="293" height="300" /><br />
</a>Lukisan Bagong Kussudiardjo berjudul “Kekayon” ini dibuat dengan teknik batik. Tataan rupa dekoratifnya memberikan kesan magistik namun estetis.</h6>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/ahmad-sadali-hiasan-berbingkai-emas.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-24" title="ahmad-sadali-hiasan-berbingkai-emas" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/ahmad-sadali-hiasan-berbingkai-emas.jpg?w=223&#038;h=300" alt="" width="223" height="300" /><br />
</a>Perupa Ahmad Sadali dengan lukisan cat minyaknya yang berjudul “Hiasan berbingkai Emas” ini lebih menuangkan idea-ideanya lewat tataan yang abstrak, namun jika kita telaah lebih dalam, getar religiositasnya akan terasa lewat campuran dan susunan warna yang matang. Keindahan transesnden pada lukisan Sadali tak mungkin dinikmati lewat kacamata naturalistik!</h6>
<h6 style="text-align:center;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/rembrant.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-33" title="rembrant" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/rembrant.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /><br />
</a>Lain pula dengan lukisan Rembrant “St. John The Baptist Preaching” yang bergaya realistik ini. Nilai-nilai religiositas transenden terpancar berkat “adegan visual” dan penggunaan teknik “cahaya jendela”, ialah konsep rupa di mana emphasis cahaya terhadir sedemikian rupa sehingga munculnya impressi yang khas yang membuat komposisi piktura menjadi “unik” dan tidak monoton.</h6>
<p style="text-align:justify;"><strong>Resolusi akhir</strong></p>
<p>Ternyata keadiluhungan seni tak mungkin tercapai tanpa mengikutsertakan Keadiluhungan Tuhan. Estetisme yang kebablasan cuma mencuatkan “sikap batin yang beku” ( frozen emotional attitude) di kalangan para seniman yang semakin lupa bahwa berkesenian merupakan bagian ibadah kepada Sang Mahakreator yang Mencitrarasakan segenap keindahan di alam semesta ini. Memberhalakan nilai-nilai estetik tanpa  memperhatikan koridor-koridor moral keagamaan- agama manapun – akan menghapus nilai-nilai pendidikan yang positif yang semestinya terukir indah dalam sebuah karya seni, termasuk dalam karya seni rupa yang memiliki “keindahan estetis” atau dalam karya seni rupa lainnya yang memiliki “keindahan transenden”.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Alamat: Jl. Cihuni No. 90 Ciburial Dago Pakar, Bandung, Indonesia.<br />
Telepon. 022-2508822</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><br />
<strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Dada 1916-196, Goethe Institut, Munchen.<br />
Elton M. Davies, Arts and Culture of Man, California, 1972.<br />
Erwin O. Christensen, A Pictorial History of Western Art, A Mentor Book, USA, 1964.<br />
Garnadi Prawirosudirdjo, Prof. Er., Integrasi Ilmu dan Iman, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.<br />
Kusnadi, Perspektif Seni Rupa Indonesia, Analisis Kebudayaan Tahun-1 Nomor-2, jakarta Pusat, 1981.<br />
Seni Rupa Indonesia dan Pembinaannya, Penerbit Proyek Pembinaan Kesenian Departemen  P dan K, Jakarta, 1978.<br />
Siecle, La Peinture Europeenne dans les Galeries Allemandes, Munich.<br />
The Liang Gie, Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan), Penerbit Karya, Yogyakarta, 1976.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<h5>[1] Lord Brain, Science and Man, London, 1966.</h5>
<h5>[2] Prof. Dr. garnadi Prawirosudirdjo MSc, Integrasi Ilmu dan Iman, Bulan Bintang, jakarta, 1975.</h5>
<h5>[3] The Liang Gie, Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan) Hal-43, Penerbit Karya, Yogyakarta, 1976.</h5>
<h5>1 La Peinture Europeenne dans les Galeries Allemandes.</h5>
<h5>2 Niedersachsische Landesgalerie, Hannover.</h5>
<h5>3 Nu feminin dipajang di Stutgart Staatsgalerie. Popularitas lukisan yang satu ini telah mengalahkan popularitas lukisan nude karya Henri Matisse yang berjudul La toilette, yang dilukis tahun 1907.</h5>
<h5>4 Madone karya Edvard Munich dipajang di Hamburg Kunsthalle, yang dikontraskan dengan lukisan nenek tua yang tengah melamun berjudul Vieille paysanne yang dilukis Paula Modersohn-Baecker pada tahun 1903.</p>
<p>5 A Pictorial History of Western Art.</h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/protagon.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/protagon.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=20&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://protagon.wordpress.com/2008/10/29/frozen-emotional-attitude-terexpressi-pada-kreasi-para-seniman-yang-bermadhab-%e2%80%9cestetisme%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f72de91479213a6ab7a6c57c67f4407?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gondewa66</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/basuki-abdullah-keluarga-berencana.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">basuki-abdullah-keluarga-berencana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-kuda-putih.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">affandi-kuda-putih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/affandi-self-portrait.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">affandi-self-portrait</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/popo-iskandar-kucing.jpg?w=257" medium="image">
			<media:title type="html">popo-iskandar-kucing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/mulyadi-kakak-beradik.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mulyadi-kakak-beradik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/bagong-kussudiardjo-kekayon.jpg?w=293" medium="image">
			<media:title type="html">bagong-kussudiardjo-kekayon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/ahmad-sadali-hiasan-berbingkai-emas.jpg?w=223" medium="image">
			<media:title type="html">ahmad-sadali-hiasan-berbingkai-emas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/10/rembrant.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rembrant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANGGAPAN  atas buku:  “MATAHARI MENGELILINGI BUMI”</title>
		<link>http://protagon.wordpress.com/2008/05/11/tanggapan-atas-buku-%e2%80%9cmatahari-mengelilingi-bumi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://protagon.wordpress.com/2008/05/11/tanggapan-atas-buku-%e2%80%9cmatahari-mengelilingi-bumi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 08:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gondewa66</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[dedy suardi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya gravitasi]]></category>
		<category><![CDATA[geosentris]]></category>
		<category><![CDATA[heliosentris]]></category>
		<category><![CDATA[jagad raya]]></category>
		<category><![CDATA[jagat raya]]></category>
		<category><![CDATA[matahari mengelilingi bumi?]]></category>
		<category><![CDATA[ptolomeus]]></category>
		<category><![CDATA[rotasi bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://protagon.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Yth. Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf (Penulis Matahari Mengelilingi Bumi) D/a: Penerbit Pustaka Al Furqon Kompleks Ma’had al-Furqon al-Islami Srowo-Sidayu-Gresik 61153 Indonesia. As.Wr.Wbrkth. Pertama, saya ucapkan selamat atas penerbitan buku bapak yang berjudul,”Matahari Mengelilingi Bumi”, semoga niat bapak menulis buku yang isinya cukup kontroversial ini, tidak “kontroversi” dengan niat bapak yang suci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=11&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kepada Yth.</p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;">Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">(Penulis <em>Matahari Mengelilingi Bumi</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">D/a: Penerbit Pustaka Al Furqon</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kompleks Ma’had al-Furqon al-Islami</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Srowo-Sidayu-Gresik 61153</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>As.Wr.Wbrkth.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertama, saya ucapkan selamat atas penerbitan buku bapak yang berjudul,”<strong><em>Matahari Mengelilingi Bumi”, </em></strong>semoga niat bapak menulis buku yang isinya cukup kontroversial ini, tidak “kontroversi” dengan niat bapak yang suci untuk menegakkan Agama Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun kendati demikian, dengan segala kerendahan hati, setelah saya pribadi membaca <strong><em>“ Matahari Mengelilingi Bumi”, </em></strong>izinkanlah saya ‘sedikit nimbrung’ atau mungkin boleh dibilang ‘memberi sedikit masukan’ atas tulisan yang menurut saya (maaf) merupakan dukungan atas <strong><em>Teori Ptolomeous</em></strong>, yang amat dipuja oleh para pendeta Nasrani di abad kegelapan tempo dulu; bahkan konon, Teori Ptolomious yang dibukukan berjudul <strong><em>“Collection”</em></strong> itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul <strong><em>“al-Maghist”, </em></strong>yang menurut kabar burung, buku yang ditulis dengan huruf Arab tesebut, telah banyak “menggelincirkan” para ulama Islam yang tidak meneliti ilmu Astronomi secara langsung di lapangan. (dipercaya begitu saja, karena setiap kitab behuruf Arab itu dianggap benar)<span id="more-11"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/arabic-almagest-2.jpeg"></a><img class="aligncenter size-full wp-image-12" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/arabic-almagest-2.jpeg?w=500" alt=""   /><br />
Selanjutnya ada hal yang amat saya sayangkan, bahwa penulisan buku <strong><em>“Matahari Mengelilingi Bumi”,</em></strong> tidak mengikut sertakan penemuan para astronom Muslim sebagai acuan ilmu, seperti Ibnu Sina, Al-Battani, Ibnu Haitam, Al-Hawarizmi, dan banyak lagi yang lainnya; bahkan Prof. Adussalam (Pakistan) yang pernah mendapat Hadiah Noble pun sama-sekali tak disinggung-singgung. Padahal, mereka adalah tokoh ‘kelangitan’ yang cukup penting, yang banyak mempengaruhi para astronom Barat berkat hasil penelitiannya yang gemilang yang tidak hanya berdasarkan ayat-ayat Qur’aniyah belaka, namun didukung oleh ayat-ayat Kauniyah yang bertebaran di segenap alam semesta (perintah Allah ‘azza wajalla agar kita menggunakan <em>akal-sehat</em> sebagai interaksi dari <em>kecerdasan fikir </em>dan <em>kehalusan/ketajaman kalbu). </em>Kata Imam Al-Ghazali, akal itu bukan sekedar fikiran, namun gabungan antara fikiran dengan kalbu manusia</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Selanjutnya perlu disadari dengan jiwa yang husnuzon, bahwa mereka berjuang meneliti langit berpuluh-puluh tahun bahkan beratus tahun secara estafet, dengan niat memajukan Islam dan menggapai Ridha Allah semata, guna membuka mata manusia yang dikeruhi oleh visi “abad kegelapan” menjadi terang benderang, demi memajukan<span> </span>masa depan. Warisan para astronom Muslim untuk dunia barat sudah tak terhitung lagi nilainya, dari mulai nama-nama bintang dalam bahasa Arab, teori peredaran Bumi Matahari dan Bulan, hingga istilah bagi sistem gerak teropong bintang; Azimuth dan Al-tazimuth. Oleh sebab itu alangkah ‘tak bersyukurnya’ jika kita tega mencemoohkan mereka, yang ternyata telah menemukan kebenaran, kendati masih jauh dari kesempurnaan karena ‘sempurna’ itu hanyalah milik Gusti Allah semata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkat jasa-jasa mereka di abad-abad lampau, para astronom modern, atas izin Allah, telah mampu menentukan dengan tepat saat-saat Gerhana Matahari dan Bulan (yang telah sama-sama kita saksikan ketepatannya), perhitungan orbit Bumi dan planet lainnya sehingga kita telah mampu melepaskan robot-robot penjelajah (Spirit dan Opportunity) di daratan Mars yang saat ini masih menggelinding mencari sumber air di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perhitungan-perhitungan astronomis yang kita saksikan tepat ini, tak ayal lagi sebagai konklusi dari perhitungan gerakan Bumi, gerakan Matahari, gerakan Bulan, planet-planet dan sebagainya. Salah satu contoh misalnya; Sang Surya yang berdiameter 1.392.000 km, dan besarnya 1.303.600 kali Bumi kita, terus berlari mengedari pusar galaksi Bimasakti (Milky Way) dengan kecepatan 2150 km perdetik. Bumi mengelilingi Sang Surya dengan<span> </span>falaq yang sedikit ellips, terjauh 152.100.000 km dan terdekat 147.100.000 km, dan bergulir dengan poros yang miring (231/2 derajat) pada arah yang tegak, sehingga memunculkan berbagai musim! (Sunatullah). Oleh karena itu, alangkah disayangkan jika ada orang yang menandaskan bahkan memastikan bahwa Bumi kita itu <em>diam tak begerak </em>seingsutpun, kendati sebagai acuannya adalah Al-Qur’anul Karim sebagai Kitabullah yang amat sempurna. Mengapa demikian? Karena menterjemahkan lebih-lebih lagi menafsirkan Kitab Suci itu tidak semudah mencomot tuturan aksaranya belaka, sebab selain ada ayat-ayat yang nyata (muhkamat), tak sedikit yang memiliki nilai-nilai metafor (mutasyabihat) yang perlu dikaji kembali secara mendalam (seperti kata-kata <em>Sang Surya bergeser dari timur ke barat</em>, yang menandakan bahwa nilai puitik Al-Qur’an itu sangat tinggi dan indah). Belum lagi penterjemahannya yang salah, karena manusia (penterjemah) sepintar apapun tetap saja tak luput dari kesalahan!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Agaknya perlu kita ulangi kembali, bahwa berkat masyarakat (menjelang lahirnya Nabi Isa as.) menerima teori tentang alam raya dari seorang tokoh Nasrani buhun, Claudius Ptolomeous, <strong><em>yang menandaskan bahwa Matahari mengelilingi Bumi</em></strong><em>, </em>maka perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, menjadi buntu. Karena fihak Gereja begitu kokoh meyakini kebenaran teori Ptolomeous, maka kebuntuan ilmu pengetahuan tak henti berlangsung hingga ratusan tahun lamanya; sehingga <em>astrologi</em> (penujuman menggunakan bintang-bintang) akhirnya tumbuh dengan suburnya!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terhentinya perkembangan ilmu pengetahuan, memiliki arti bahwa manusia terjerumus pada jurang kebodohan. Para ilmuwan barat menjuluki masa prihatin tersebut dengan istilah: <strong><em>“Abad Kegelapan”. </em></strong>Namun dalam situasi fikir demikian kacaunya, nun jauh di tengah padang sahara yang gersang, di tengah masyarakat superbodoh, lahirlah seorang pemimpin pembaharu, Muhammad saw, nabi dan rasul pamungkas agama langit. Mulai saat itulah ilmu pengetahuan berkembang di gurun gersang, termasuk ilmu astronomi, yang akhirnya memberikan semangat dan inspirasi pada dunia barat yang pada saat itu ilmu pengetahuannya tengah terpuruk sehingga lunglai dalam kegelapan, berkat kepercayaan fanatik yang tak bedasar bahwa <em>Matahari menglilingi Bumi.</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Oleh sebab itu amat disayangkan –mudah-mudahan tidak termasuk Anda- jika ada orang yang memanfaatkan ayat-ayat Qur’an yang demikian suci dan mulia itu, untuk membela kekeliruan ilmu, seperti produk ilmu yang dicanangkan Ptolomeous tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saudaraku Ahmad sabiq yang saya cintai. Sehubungan dengan kenyataan di atas, maka saya meragukan bahwa Teori Ptolomeous yang Anda yakini itu akan mampu memprediksi saat-saat gerhana secara tepat, bahkan menentukan awal atau akhir Ramadhan sekalipun (secara hisab) boleh dibilang pasti akan meleset jauh!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selanjutnya, dengan kerendahan hati pula saya ingin mencoba mengomentari beberapa masalah yang tertulis di halaman buku Anda, apakah merupakan pendapat Anda sendiri atau pendapat orang lain sebagai referensi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-14" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/geocentric.jpg?w=500" alt="geosentris"   /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal"><a href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/heliocentric.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-15" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/heliocentric.jpg?w=673&#038;h=585" alt="heleosentris" width="673" height="585" /></a></p>
<ol style="margin-top:0;text-align:justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Hal-69. Anda menandaskan bahwa sekolah-sekolah sekarang mengajarkan (membenarkan) teori Heliocentris, yang mengatakan bahwa Matahari adalah pusat alam semesta! Jawaban saya, pada kenyataannya, sekolah-sekolah abad ini tidak mengajarkan(membenarkan) bahwa Matahari itu adalah pusat alam semesta (Heliocentris). Yang diajarkan adalah, bahwa Matahari merupakan salah sebuah bintang dari sekian milyar (Cuma Allah Yang Mahatahu jumlahnya) bintang yang terhimpun di galaksi Bimasakti (Al-Buruuj atau galaksi/benteng yang tinggi), dan Bumi mengedari Matahari. Heliocentris sendiri telah lama tumbang setelah peralatan canggih mulai dioperasikan dan fikiran manusia bertambah maju. Jika Heliocentris masih diyakini saat ini, itu merupakan kesalahan guru semata-mata!</li>
<li class="MsoNormal">Hal-83 dan 88. Jawaban saya, Bumi belum tentu terletak di tengah langit, namun di emperan galaksi Bimasakti. Anda mengikuti pendapat seorang ulama yang memperkirakan bahwa jarak Bumi ke langit ketujuh adalah 126 juta Km. Ini terlampau pendek, sebab menurut perhitungan terakhir sebagai hasil dari pelacakan pesawat jelajah (Voyager) yang mengarungi Solar Sistem hingga ke planet ke-sepuluh Xena (setelah Pluto), bentangan system Matahari kita terbukti lebih dari 6 (enam) milyar tahun! Ini baru bentangan “Solar System” yang menurut kacamata alam raya cuma merupakan nohtah kecil! Kalau tebal langit hanya 126 juta km, di manakah gerangan galaksi-galaksi (buruuj) yang banyak itu harus diletakkan? Belum lagi Supergalaksi bahkan Hypergalaksi?</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terkait dengan hal di atas, syogianya hati-hati pula menerjemahkan kata<span> </span><em>sab’a samaawaat </em>(harafiah:<em> tujuh lapis langit), </em>sebab istilah <em>sab’a </em>tak menyatakan<span> </span>bilangan tujuh atau seven. Bangsa Arab menggunakan istilah sab’a untuk sesuatu yang berjumlah banyak atau lebih dari satu, sebagaimana halnya kita mengucapkan <em>“celaka tigabelas”, </em>yang artinya bukan tigabelas kali celaka!</p>
<ol style="margin-top:0;text-align:justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Judul <strong><em>Matahari Mengelilingi Bumi </em></strong>terus-terang saja amat mengejutkan diri saya. Sebab, bagaimana mungkin Matahari yang besarnya 1.303.600 kali Bumi dan massanya 300.000 kali Bumi, mengedari planet kerdil semacam pemukiman kita?</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan<span> </span>tak terbayangkan betapa cepatnya, jika Matahari yang berjarak cukup jauh itu, mengelilingi Bumi hanya dalam waktu 24 jam? Sedangkan dengan kecepatan 29,79 km perdetik, Bumi mengedari Matahari menghabiskan waktu satu tahun lamanya! Jadi, jika benar Matahari mengelilingi Bumi dalam waktu sehari-semalam, dia harus memiliki kecepatan orbit 365 x 29,79 kilometer perdetiknya.</p>
<ol style="margin-top:0;text-align:justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Hal-106. Sebagai salah satu argumen Qur’ani, anda menyodorkan Surat Fathir (35):41 yang Anda artikan: <em>“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser, dan sungguh jika keduanya akan bergeser tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia itu maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” </em>Pertanyaan saya, apakah benar An-tazuulaa artinya <em>supaya jangan bergeser? </em>Atau dalam konteks ini lebih tepat diartikan <em>supaya tidak lenyap? </em>Fathir(35) ayat-41.</li>
<li class="MsoNormal">Hal-107. Anda mengajukan Ar-Rum (30):25 yang Anda artikan: <em>“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah berhentinya langit dan bumi dengan seizinnya.” </em>Petanyaan saya, <em>an-taquuma </em>dalam surat Ar-Rum (30):25 diartikan <em>berhenti </em>bagi Bumi dan langitnya. Apakah tidak lebih cocok kalau artinya “<em>bahwa berdiri”?</em></li>
<li class="MsoNormal">Hal-110. Mohon dibedakan kata <em>“bergerak dan berotasi”</em> dengan <em>“bergoncang”.</em> Diciptakan gunung-gunung di Bumi sebagai pasak, bukan supaya Bumi tidak begerak-berotasi (diam), namun agar Bumi tidak bergoncang (supaya gerakan rotasinya stabil). Goncangan Bumi yang besar, seperti halnya akibat dari percobaan Bom Nuklir misalnya, akan mempengaruhi kestabilan alam semesta yang meluas, rembet-merembet pengaruhnya jauh ke luar planet Bumi.</li>
<li class="MsoNormal">Hal-121: Tidak ada astronom moderen yang menandaskan bahwa Matahari itu diam sebagaimana dituduhkan oleh saudara. Para astronom masa kini berpendapat bahwa Matahari bergerak sambil berotasi. Bahkan saya sendiri kerap menyaksikan Matahari berotasi pada sumbunya dengan melihat “noda surya” yang beringsut terus letaknya. Selanjutnya saya sendiri pernah menyaksikan planet Merkurius yang begerak mengeliling matahari, sebagai bintik hitam yang bergerak (kesimpulan dari pelacakan beberapa waktu), dengan menggunakan teropong bintang catadioptric bermerek Celestron 8 inci. Hal ini membuktikan bahwa planet Merkurius itu mengedari Matahari!</li>
<li class="MsoNormal">Selanjutnya, bukti yang paling cepat terlacak bahwa Bumi mengedari Matahari selama 24 jam, bisa Anda rasakan tatkala Anda menyaksikan langit lewat telescope. Gerakan benda langit yang kita lihat dari sisi eyepiece ke sisi eyepiece lainnya, sama saja tatkala kita melihat Bulan, planet atau bintang-bintang; ialah gerakan yang disebabkan oleh rotasi Bumi! Jika Anda tidak percaya, dipersilahkan mampir di sanggar saya, Protagon, Jl. Cihuni No.90 Bukit Dago Pakar Timur Bandung. Telp. 022-2508822.</li>
<li class="MsoNormal">Hal-124. Dalam ayat ke-5 Az-Zumar (39), dikatakan, “<em>masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan”. </em>Ini ditujukan bukan Cuma untuk Matahari dan Bulan saja, namun juga untuk Bumi, bahkan mungkin untuk langit; karena kini diketahui bahwa langitpun mengembang dengan cepatnya, yang nanti akan “dilipat” kembali! (bahasa metafor).</li>
<li class="MsoNormal">Saya tambahkan pula bahwa, jika dikatakan Matahari berpasangan dengan Bulan, memang Matahari termasuk feminine gender dan Bulan termasuk Masculine gender. Matahari memberikan sinar terang, dan Bulan menerima sinar tersebut seraya dipantulkan kembali sebagai cahaya yang benderang syahdu.</li>
<li class="MsoNormal">Hal-126. Pada halaman ini ada yang cukup menarik dari cuplikan Hadits Abu Dzar: <em>“Sesungguhnya matahari itu berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dia bersujud”. </em>Nah, jika seandainya Matahari Cuma berulang-ulang mengedari Bumi saja sebagaimana yang Anda yakini, maka hingga kiamatpun Matahari tak akan sampai ke bawah Arsy. Namun jika Matahari mengedari pusar galaksi Bimasakti, dan Bimasaktikpun mengedari pusar Super-galaksi (himpunan galaksi-gakasi), dsb, maka hadits ini cukup mendukung teori dari astronomi modern, dan tidak bagi astronomi a’la Ptolomeous.</li>
<li class="MsoNormal">Ayat yang cukup mendukung bahwa Bumi itu berotasi pada porosnya ialah, An-Naml ayat 88 yang artinya:</li>
</ol>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;">“Dan engkau melihat gunung-gunung, engkau kira bahwa dia tetap (tiada bergerak), padahal dia berjalan kencang sebagai awan berjalan. (Begitulah) perbuatan Allah, yang membuat segala sesuatu dengan kokohnya; sesungguhnya Dia mengetahui betul apa yang kamu kerjakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em></em></p>
<ol style="margin-top:0;text-align:justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Hal-138. Pada halaman ini Anda menggunakan pendapat Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid dalam bukunya <em>Hidayatul Hairan fi Mas’alatid Dauran (Petunjuk bagi orang-orang bingung tentang masalah peredaran Matahari dan Bumi). </em>Dalam buku ini Syaikh Abdul Karim menuduh bahwa orang yang mempercayai bahwa Bumi mengelilingi Matahari adalah orang-orang bingung yang mengambil ilmu dari orang-orang kafir (pendapat yang bathil).</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saudaraku! Jangan-jangan, justru Sang Syaikh-lah yang bingung itu! Merasa paling beriman kepada Allah dan Rasulnya, namun memper-memper “ulama jumud” yang tak mau menerima kemajuan ilmu pengetahuan! Padahal, amat berdosa jika seseorang apalagi pangkat ulama, yang keadaan pengetahuannya sama (stagnasi) antara kemarin, kini dan esok! Padahal ulama yang baik adalah ulama yang akhlaknya mencontoh Nabi akhir zaman; tidak merendahkan orang lain, bertoleransi pendapat, dan tidak tinggi hati (tawadhu). Atau mungkin saja Sang Syaikh menyangka bahwa Matahari tubuhnya lebih kerdil ketimbang planet Bumi yang kini kita diami. Matahari (as-Syams) sebagai salah satu bintang dari “sekian milyar” (jumlahnya cuma Gusti Allah yang Mahatahu) bintang yang bermukim di galaksi Bimasakti (Al-Buruuj) memang bukan bintang yang paling besar, namun Bumi tempat kita berada hanyalah perupakan planet kecil, yang saking kecilnya mudah saja “nyeplos” ke dalam nohtah Matahari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memang benar Matahari &#8211; tampak oleh mata telanjang, setiap pagi terbit dari ufuk timur dan berjalan ke arah barat. Namun tidakkah kita berusaha mencari alasan hakikiahnya, mengapa tampak seperti itu? Jawabannya tak cukup dengan menggunakan acuan ayat-ayat kauliyah belaka, namun syogianya didukung oleh penelitian dan perhitungan yang logis. Bukankah kata Qur’an sendiri, yang kita lihat sehari-hari itu merupakan tipuan belaka? Bukan hakiki! Bukan pula kenyataan yang sebenarnya? Sebab jika kepercayaan kita hanya disebabkan sebatas kekasatan mata belaka, maka sama saja kita kembali menjadi anak kecil yang masih belajar mengenal benda-benda yang sederhana, tak membutuhkan “akal”, tak membutuhkan kebijaksanaan yang luhur, tak membutuhkan kearifan sebagaimana manusia dewasa, apalagi kearifan seorang ulama (ilmuwan) yang dengan sungguh-sungguh mengadakan penelitian dengan dukungan multi-dimensi ilmu! Padahal Allah Yang Mahakreatif berulang-ulang menyuruh kita menggunakan “akal-sehat” di dalam menemukan ilmu-ilmu baru, seraya tidak jumud, tidak suudzon atas pendapat orang lain!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lebih-lebih lagi alangkah tidak tepatnya seandainya kita mengacu pada pendapat para fuqoha, padahal yang tengah kita bahas adalah masalah-masalah sains dan teknologi, misalnya seputar kosmologi, astronomi, dsb. Ini tantangan bagi kita semua, agar Islam tak dinodai oleh kejumudan para pemeluknya.</p>
<ol style="margin-top:0;text-align:justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Hal-139. Untuk membuktikan bahwa secara global awan terbawa gerakan Bumi<span> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">disebabkan pengaruh gravitasi, maka Anda syogianya naik pesawat ulak-alik ke angkasa atau ngedompleng ke satelit yang tengah menglilingi Bumi kita, sebab ilmu pengetahuan jangan dikira-kira. Dan gerakan awan yang tampak sehari-hari oleh kita dari Bumi, itu cumalah “gerakan internal kebumian” dikarenakan tiupan angin atau alas an lain! Jadi, gerakan pesawat terbang pun yang kita lihat sehari-hari itu merupakan gerakan internal kebumian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengapa kita merasa diam, padahal Bumi secara global tengah berotasi dengan kencangnya? Justru disinilah letak kedahsyatan sunatullah (hukum allah) yang tak mungkin dikaji oleh otak-otak kerdil kendati menggunakan ilmu gravitasi sekalipun! Yang jelas, sambil bengong kita hanya mampu mengucapkan: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun kendati demikian, boleh-boleh saja kan saya menyumbangkan secuil<span> </span>persamaan atau contoh yang amat sederhana; ialah jika misalnya tubuh kita tiba-tiba dibesarkan 10 kali lipat oleh Sang Mahapencipta, berbareng dengan pembesaran (10 kali) benda-benda yang ada di sekeliling kita, apakah itu busana yang kita pakai, jam tangan kita, rumah kita beserta segala isinya, dsb, maka kita tak akan menyadari bahwa tubuh kita telah dibesarkan oleh Allah Swt. 10 kali lipat! Tapi, setelah kita menengok ke luar rumah lewat jendela rumah kita, baru kita sadar bahwa kita telah membesar 10 kali lipat, berkat membandingkannya dengan pohon-pohon yang tetap kecil, rumah orang lain yang tetap kecil, dsb. Itulah dia “jendela ilmu” yang menyadarkan hakekat kita! Hal ini sama saja dengan ketika kita melihat dengan mata telanjang Matahari bergerak dari timur ke barat. Lantas dengan mudah kita “menyangka” bahwa Matahari mengelilingi Bumi! Padahal, jika Anda menyaksikan langit di waktu malam dengan seksama, semua benda-benda langit akan kita lihat bergerak dari Timur ke Barat (seperti tatkala kita menyaksikan Matahari bergerak dari timur ke arah barat), termasuk Bulan, planet-planet atau bintang-kemintang! Apakah ini menandakan bahwa semua benda-benda tersebut mengelilingi Bumi kita? Toh tidak demikian bukan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tipuan pandang seperti inilah yang menyebabkan munculnya Teori Geocentris yang membikin abad menjadi gelap karena tak tersinari Cahaya Allah; ialah <strong><em>Cahaya di atas cahaya! </em></strong>Ptolomeous dengan mudah saja berteori bahwa semua benda-benda langit itu mengelilingi Bumi, termasuk Matahari! Dan yang menentang teori ini langsung dikejar-kejar untuk dimusnahkan oleh orang-orang Nasrani yang taqlid pada Ptolomeous! Memang menyedihkan! Tradisi jahiliyah!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selanjutnya, saya ingin bertanya, pernahkan Anda mencoba mengayunkan (sirkular ke segala arah) sekaleng air secara kencangnya dengan menggunakan tautan tambang? Wow, airnya tak jatuh muncrat ke luar kan? (berkat hukum keseimbngan). Maka saya tak mampu membayangkan jika tiba-tiba Bumi kita dihentikan gerak rotasinya oleh Sang Mahapencipta Yang Mahaagung! Mungkin saja akan muncul <em>katastrophe</em> yang tak terperikan, bukan saja pada Bumi dan seisinya, namun juga pada planet-planet lainnya; karena gerakan benda-benda angkasa itu saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain (Sunatullah). Mudah-mudahan itu terjadi di hari Kiamat saja!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain menggunakan teropong bintang, sebenarnya tak terlampau sulit untuk membuktikan bahwa Bumi kita berotasi pada porosnya. Arahkan kamera foto kita yang kita letakkan pada tripod, sejajar dengan sumbu rotasi bumi ke sebuah bintang yang letaknya tertotok sumbu tersebut (biasanya bintang tersebut tampak oleh mata kita tidak berpindah atau bergeser). Biarkan diafragma terbuka terus selama beberapa jam dengan menggunakan kecepatan 1/B. Hasil foto yang akan didapat merupakan jalur-jalur sirkular dari bintang-bintang (star-trail) sebagai dampak dari perputaran Bumi kita pada porosnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hal-141. Saya baca bab yang berjudul: <strong><em>Jangan Pertahankan Teori Bumi Mengelilingi Matahari!!! </em></strong>Maaf, sejuta kali judul ini dituruti orang, kenyataannya Bumi kita akan tetap saja mengedari Matahari, kecuali jika pada saat tertentu nanti, Allah Yang Mahakuasa menginginkan yang sebaliknya. Atau, kecuali jika kita ingin menobatkan diri kita menjadi baladnya Ptolomeous, Sang Gerejawan legendaris yang berfikir dengan menggunakan logika-logika Trinitas!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akhirnya, saudaraku Ahmad Sabiq yang saya cintai! Kita ini merupakan makhluk-makhluk kecil yang penuh dengan kelemahan dan kebodohan. Tentu saja akan banyak kesalahan fatal pada sumbangsih ilmu yang saya haturkan buat Anda. Ambillah yang sesuai dengan Qur’an Suci, dan buanglah jika sekiranya bertentangan dengan Kalam Ilahi. Namun jangan sekali-kali mencemoohkan penelitian ilmu, karena meneliti ilmu merupakan kewajiban seorang muslim yang mencari kebenaran; tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China! Buku yang Anda tulis ini semoga membawa hikmah bagi kita semua, minimal akan menyadarkan bahwa kita merupakan makhluk <strong><em>“Hyper Bodoh”</em></strong> di hadapan Gusti yang telah menciptakan alam semesta raya dengan penuh pesona! Aaamiin!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Was.Wr.Wrkth.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Dedy Suardi</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Jl. Cihuni No.90 Ciburial Bukit Dago Pakar Timur, Bandung. Telp.022-2508822.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dari angkasa-raya, astronaut melihat bahwa awan-awan itu bergerak global mengikuti rotasi Bumi kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/startrails.jpg?w=656&#038;h=449" alt="" width="656" height="449" />Foto-foto Star-Trail yang membuktikan bahwa Bumi kita selain mengedari Matahari, berotasi pada porosnya, yang sekali rotasi lamanya 24 jam. Matahari yang tampak bergerak dari timur ke barat disebabkan oleh rotasi Bumi tersebut ke arah sebaliknya! Silahkan, siapa pun bisa mencoba!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/protagon.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/protagon.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/protagon.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/protagon.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=11&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://protagon.wordpress.com/2008/05/11/tanggapan-atas-buku-%e2%80%9cmatahari-mengelilingi-bumi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f72de91479213a6ab7a6c57c67f4407?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gondewa66</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/arabic-almagest-2.jpeg" medium="image" />

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/geocentric.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">geosentris</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/heliocentric.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">heleosentris</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/05/startrails.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MATAHARI MENGELILINGI BUMI?</title>
		<link>http://protagon.wordpress.com/2008/03/28/ptolomeus/</link>
		<comments>http://protagon.wordpress.com/2008/03/28/ptolomeus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 05:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gondewa66</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[dedy suardi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya gravitasi]]></category>
		<category><![CDATA[geosentris]]></category>
		<category><![CDATA[heliosentris]]></category>
		<category><![CDATA[jagad raya]]></category>
		<category><![CDATA[jagat raya]]></category>
		<category><![CDATA[matahari mengelilingi bumi?]]></category>
		<category><![CDATA[ptolomeus]]></category>
		<category><![CDATA[rotasi bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://protagon.wordpress.com/2008/03/28/ngetes/</guid>
		<description><![CDATA[ORANG ISLAM YANG MEYAKINI MATAHARI MENGELILINGI BUMI, KEMBALI PADA ABAD KEGELAPAN YANG MARAK DENGAN TAQLID DAN KEBODOHAN! Oleh: Dedy Suardi Saudaraku sesama muslim yang berbahagia! Kebangkitan Islam telah lama kita gembar-gemborkan sambil sebahagian dari kaum muslimin tak bangkit-bangkit seingsutpun dari oggokan kebodohan, yang membikin kecemerlangan Cahaya Al-Qur&#8217;anul Karim seakan-akan kita kusamkan kembali berkat kekhilafan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=3&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">
<p align="left"><strong>ORANG ISLAM YANG MEYAKINI MATAHARI MENGELILINGI BUMI, KEMBALI PADA ABAD KEGELAPAN YANG MARAK DENGAN TAQLID DAN KEBODOHAN!</strong></p>
<p align="left">Oleh: <strong>Dedy Suardi</strong></p>
<p align="justify">Saudaraku sesama muslim yang berbahagia! Kebangkitan Islam telah lama kita gembar-gemborkan sambil sebahagian dari kaum muslimin tak bangkit-bangkit seingsutpun dari oggokan kebodohan, yang membikin kecemerlangan Cahaya Al-Qur&#8217;anul Karim seakan-akan kita kusamkan kembali berkat kekhilafan dari para pengkajinya!</p>
<p align="justify">Kini, di abad Robot Opportunity dan Spirit merangkak-rangkak di permukaan planet Mars untuk melacak kandungan air yang menunjang kehidupan, pro-kontra yang punya kaitannya dengan falaq benda-benda langit, telah marak kembali, bahkan nyaris diornamen oleh sumpah-serapah dan caci-maki yang tidak sesuai dengan keluhuran budi yang diajarkan oleh Agama Islam yang kita junjung tinggi!</p>
<p align="justify"><a title="geocentris" href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/geocentric.jpg"><img style="float:left;margin-right:10px;" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/geocentric.thumbnail.jpg?w=246&#038;h=188" alt="geocentris" width="246" height="188" /></a>Sebagaimana kita ketahui bersama, &#8220;ABAD KEGELAPAN&#8221; diwarnai secara kusam oleh seorang tokoh fanatik bernama Ptolomeus (1140-1101 SM) dari Alexandria.! Beliau meyakini tanpa ampun bahwa Bumi kita yang kita tempati ini merupakan pusat alam semesta raya dan diam tidak bergerak! Matahari, bulan dan bintang-bintang, beliau anggap sebagai benda-benda kecil yang memutari planet Bumi! Jadi, planet kita (Bumi) diyakini sebagai benda yang paling besar di jagat raya! Dengan keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar itu, maka muncullah sebuah teori yang benar-benar dikeramatkan selama 18 abad oleh para pendukungnya yang dijuluki &#8220;TEORI GEOCENTRIC&#8221;!<span id="more-3"></span></p>
<p align="justify">Guna melestarikan keyakinan tersebut, maka muncullah ultimatum keramat yang disiarkan ke seantero negeri: &#8220;SIAPA SAJA ORANGNYA YANG MEREKAYASA TEORI LAIN DI LUAR TEORI YANG TELAH DIKUKUHKAN OLEH FIHAK GEREJA (geocentric), MAKA ORANG TERSEBUT WAJIB DIHUKUM PANCUNG!&#8221; (karena dianggap menyebarkan pemurtadan)</p>
<p align="justify"><a title="heliocentris" href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/heliocenric-copernicus-1660.jpg"><img style="float:left;margin-right:10px;" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/heliocenric-copernicus-1660.thumbnail.jpg?w=255&#038;h=210" alt="heliocentris" width="255" height="210" /></a>Namun, dalam suasana ultimatum yang cukup mencengangkan itu, tak pelak muncul seorang tokoh pembaharu bernama Copernicus yang dengan berani mencanangkan teori baru yang berseberangan dengan teori yang dikeramatkan tersebut; terkelal dengan TEORI &#8220;HELIOCENTRIS&#8221;, yang menandaskan bahwa Bumilah yang mengelilingi Matahari! Bahkan Bulan, dan planet-planet yang lain pun mengelilingi Matahari! Jadi Matahari untuk sementara dianggap sebagai pusat alam semesta!</p>
<p align="justify">Tal lama kemudian sang tokoh kontroversial tersebut dikejar-kejar oleh para penganut GEOCENTRIC untuk dimusnahkan! Bahkan seorang tokoh bernama Bruno, sempat dibakar hidup-hidup! Tak ayal lagi kemajuan ilmu pengetahuan dibekam habis-habisan oleh manusia jahiliyah yang ingin mempertahankan kebodohan di muka Bumi ini, sehingga ABAD KEGELAPAN yang direkayasa oleh sekelompok manusia &#8216;fanatik&#8217; nyaris menggelapkan segala-galanya, seakan-akan ingin memupus segala kebenaran yang dipancarkan oleh Sang Pemilik Cahaya di Atas Cahaya, Allah Rabbul Alamin!</p>
<p align="justify">Padahal, jauh beberapa abad sebelumnya (pasca para sahabat), para ulama Islam pun (berdasarkan kajian dari Al-Qur&#8217;an), seperti Al Battani, Ibnu Haithem, Ibnu Sina (Avicenna) dll, telah mentah-mentah menolak kefanatikan yang disodorkan oleh Ptolomeus tersebut! Az-Zumar ayat-5 mengatakan: &#8220;<em>Ia telah menciptakan langit dengan haq, dipusingkan-Nya malam kepada siang, dan dipusingkan-Nya siang kepada malam.&#8221;</em></p>
<p align="justify">
<p align="justify">Bahwa planet Bumi ternyata tidak diam (berotasi pada porosnya), telah diperkuat oleh An-Naml ayat-88 yang artinya: <em>&#8220;Dan engkau lihat gunung-gunung, engkau kira bahwa dia tetap (tidak bergerak), padahal dia berjalan kencang bagaikan awan berjalan. (Begitulah) perbuatan Allah, yang membuat segala-sesuatu dengan kokohnya; sesungguhnya Dia mengetahui betul apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em></p>
<p align="justify">Dari hasil penelitan di lapangan yang bisa dipertanggung jawabkan, ternyata semua benda-benda langit itu bergerak sejalan dengan falaq yang ditentukan oleh Sang Mahapengatur! Selain berotasi, Bulan bergerak memutari Bumi, tatkala Bumi bergerak mengedari Matahari, tatkala Matahari (sebagai salah sebuah bintang dari milyaran bintang dalam galaksi Bimasakti) bergerak mengedari pusat galaksi Bimasakti, tatkala Bimasakti bergerak mengedari pusat Supegalaksi, dst! Maka dalam Al-Qur&#8217;an tercantum istilah &#8220;sab&#8217;a samaawaat&#8221; yang berarti tujuh tingkatan langit! (tujuh artinya banyak atau luas).</p>
<p align="justify">Perlu diketahui bahwa, besar Matahari kurang-lebih 1.300.000. (satu juta tiga ratus ribu) kali Bumi kita. Rasa-rasanya jika terjadi Matahari mengelilingi Bumi, benar-benar telah melanggar sunatullah yang sah! Masuk akalkah satu hari satu malam dikarenakan satu kali Matahari sebagai benda raksasa mengorbit Bumi sebagai benda superkecil? Entahlah jika Anda sudi kembali lagi pada paham para penyembah Fir&#8217;aun yang meyakini bahwa tenggelamnya Sang Surya disebabkan karena dilahap oleh Dewi Nuts, dan terbitnya Sang Surya keesokan harinya disebabkan karena dia dilahirkan kembali oleh Sang Dewi yang doyan menyantap gumpalan api yang besarnya 1.300.000 kali planet Bumi!</p>
<p align="left"><strong>MENGAPA DI KALANGAN UMMAT ISLAM MUNCUL KEMBALI FAHAM GEOCENTRIS?</strong></p>
<p align="justify"><a title="almaghest" href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/almaghest-tulisan-arab.jpg"><img style="float:left;margin-right:10px;" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/almaghest-tulisan-arab.thumbnail.jpg?w=253&#038;h=193" alt="almaghest" width="253" height="193" /></a>Munculnya kembali faham Geometric di kalangan ummat Islam, tak lepas dari adanya terjemahan buku Ptolomieus (Collection) ke dalam bahasa Arab (Almaghist-campuran dari bahasa Gerika dan Arab)! Tak sedikit para pemuka agama Islam yang dikecohkan oleh Almaghist tersebut, mungkin saja disebabkan oleh salah persepsi; bahwa setiap kitab yang berbahasa Arab, mereka anggap sebagai sumber kebenaran! Hal ini disebabkan oleh wabah <em>&#8216;urubah&#8217; (kearab-araban atau Arab-Centris), </em>yang nyaris menyempitkan makna Islam sebagai religi yang memiliki nilai Universal!</p>
<p align="justify">Namun, ada yang lebih celaka lagi dengan munculnya kembali pendapat &#8220;ketinggalan spoor&#8221;, bahwa Bumi kita tidak bundar namun datar bagaikan meja! Dan jika pendapat tersebut merekah dikalangan ummat Islam, tanda bahaya wajib segera dibunyikan, karena ini bukan lagi pembodohan ummat, namun lebih merupakan &#8216;musibah ilmu pengetahuan&#8217; yang perlu segera diantisipasi oleh penjelasan-penjelasan sains yang tidak sekularistik!</p>
<p align="justify">Saudaraku se-iman dan se-Islam! Pendapat bahwa Bumi datar terlampau dipengaruhi oleh Al-Ghasyiah ayat 20 yang artinya:<em>&#8220;Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan (dikembangkan).&#8221; </em>Istilah <em>dihamparkan </em>belum tentu sama dengan <em>diratakan, </em>sebab jika Bumi diratakan oleh Sang Mahapencipta, di planet ini tak akan ada gunung-gunung tinggi dan lembah-lembah yang curam! Oleh sebab itu, pendapat kadaluarsa yang meyakini bahwa Bumi datar bagaikan permukaan meja atau papan tulis, syogianya dibuang jauh-jauh; lebih-lebih lagi setelah kita membaca Surat An-Nazi&#8217;aat ayat-30 yang tegas-tegas menolak pendapat sempit seperti itu yang memiliki dua arti; arti kesatu: &#8220;<em>Dan bumi setelah itu diluaskan-Nya.&#8221; </em>Sedangkan arti kedua:<em> &#8220;Dan bumi setelah itu dibentuk-Nya menyerupai telur burung unta.&#8221;</em></p>
<p align="justify">Kata <em>daha </em>dalam surat An-Nazi&#8217;aat sebagai kata kerja berarti <em>mengulur </em>atau <em>meluaskan. </em>Sedangkan <em>ad-dahy</em> sebagai kata benda memiliki arti <em>&#8216;telur burung unta&#8217; (bundar). </em>Jadi arti lengkapnya: &#8216;<em>diluaskan dan dibentuk mirip telur burung unta.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><a title="star trail 01" href="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/534.jpg"><img style="float:left;margin-right:10px;" src="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/534.thumbnail.jpg?w=244&#038;h=161" alt="star trail 01" width="244" height="161" /></a>Berkat dukungan ayat Al-Qur&#8217;anul Karim dan foto-foto Bumi yang dibikin dari satelit dan dari Bulan, jelaslah kini bahwa Bumi kita bentuknya bundar! Gerak rotasi Bumi pada porosnya, bisa dibuktikan secara mudah dengan menggunakan kamera SLR yang pembukaan lensanya bisa dikunci dalam waktu yang lama (1/B). Adapun caranya, pada waktu malam bening penuh bintang-kemintang, arahkan kamera photo Anda yang telah dipasangkan pada tripod, tepat ke bintang polaris yang tertusuk poros Bumi kita. Biarkan lensa terbuka untuk beberapa jam. Dan hasilnya, kita akan mendapatkan gambar &#8220;Star Trail&#8221; ialah jalur tapak-tapak bintang yang sirkular berkat terjadinya gerakan planet Bumi pada porosnya!</p>
<p align="justify">Akhirul kalam, marilah kita simak ayat-ayat Kitab Suci kita dengan jiwa suci serta ikhlas karena Allah, demi kemajuan kita yang tak diembel-embeli dengan prasangka yang buruk. Memang ayat-ayat langit yang berjumlah 307, selama ini kurang sekali kita simak dikarenakan kita terlampau asyik mundar-mandir dalam koridor ayat-ayat fiqih saja! Padahal ayat-ayat langit tersebut benar-benar merupakan pelecut guna meningkatkan ketauhidan kita. Tidak semua ayat-ayat tersebut cukup ditafsirkan secara harafiah belaka tanpa dukungan dari hasil penelitian yang akurat dan nyata! Lebih-lebih lagi Al-Qur&#8217;anul Karim tak cukup didukung oleh fatwa-fatwa taqlid yang menjerumuskan kita ke jurang kejumudan, namun syogianya didukung oleh kejembaran akal manusia yang tak cuma mampu membaca ayat-ayat Qur&#8217;aniyah saja, namun juga mampu membaca ayat-ayat kauniyah yang tersebar di sekeliling kita termasuk di kedalaman alam semesta yang amat luas dan mempesona!</p>
<p align="justify">Kini telah saatnya kita tidak buang-buang waktu dengan jor-joran saling caci-maki berkat perbedaan madhab atau perbedan kepentingan. Bukankah Allah Swt. cuma satu? Bukankah Islam cuma satu? Bukankah Nabi Saw. cuma satu? Saya yakin Al-Qur&#8217;anul Karim bakal bersedih, jika kita kembali pada zaman kebodohan! Oleh sebab itu, marilah bareng-bareng kita kibarkan bendera Islam yang satu, agar kebangkitan Islam dari kebodohan, bukan sekedar tong berbunyi nyaring!</p>
<p align="justify">***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/protagon.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/protagon.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/protagon.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/protagon.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=protagon.wordpress.com&amp;blog=3292964&amp;post=3&amp;subd=protagon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://protagon.wordpress.com/2008/03/28/ptolomeus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f72de91479213a6ab7a6c57c67f4407?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gondewa66</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/geocentric.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">geocentris</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/heliocenric-copernicus-1660.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">heliocentris</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/almaghest-tulisan-arab.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">almaghest</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://protagon.files.wordpress.com/2008/03/534.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">star trail 01</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
