Kepada Yth.
(Penulis Matahari Mengelilingi Bumi)
D/a: Penerbit Pustaka Al Furqon
Kompleks Ma’had al-Furqon al-Islami
Srowo-Sidayu-Gresik 61153
Indonesia.
As.Wr.Wbrkth.
Pertama, saya ucapkan selamat atas penerbitan buku bapak yang berjudul,”Matahari Mengelilingi Bumi”, semoga niat bapak menulis buku yang isinya cukup kontroversial ini, tidak “kontroversi” dengan niat bapak yang suci untuk menegakkan Agama Allah.
Namun kendati demikian, dengan segala kerendahan hati, setelah saya pribadi membaca “ Matahari Mengelilingi Bumi”, izinkanlah saya ‘sedikit nimbrung’ atau mungkin boleh dibilang ‘memberi sedikit masukan’ atas tulisan yang menurut saya (maaf) merupakan dukungan atas Teori Ptolomeous, yang amat dipuja oleh para pendeta Nasrani di abad kegelapan tempo dulu; bahkan konon, Teori Ptolomious yang dibukukan berjudul “Collection” itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul “al-Maghist”, yang menurut kabar burung, buku yang ditulis dengan huruf Arab tesebut, telah banyak “menggelincirkan” para ulama Islam yang tidak meneliti ilmu Astronomi secara langsung di lapangan. (dipercaya begitu saja, karena setiap kitab behuruf Arab itu dianggap benar)

Selanjutnya ada hal yang amat saya sayangkan, bahwa penulisan buku “Matahari Mengelilingi Bumi”, tidak mengikut sertakan penemuan para astronom Muslim sebagai acuan ilmu, seperti Ibnu Sina, Al-Battani, Ibnu Haitam, Al-Hawarizmi, dan banyak lagi yang lainnya; bahkan Prof. Adussalam (Pakistan) yang pernah mendapat Hadiah Noble pun sama-sekali tak disinggung-singgung. Padahal, mereka adalah tokoh ‘kelangitan’ yang cukup penting, yang banyak mempengaruhi para astronom Barat berkat hasil penelitiannya yang gemilang yang tidak hanya berdasarkan ayat-ayat Qur’aniyah belaka, namun didukung oleh ayat-ayat Kauniyah yang bertebaran di segenap alam semesta (perintah Allah ‘azza wajalla agar kita menggunakan akal-sehat sebagai interaksi dari kecerdasan fikir dan kehalusan/ketajaman kalbu). Kata Imam Al-Ghazali, akal itu bukan sekedar fikiran, namun gabungan antara fikiran dengan kalbu manusia
Selanjutnya perlu disadari dengan jiwa yang husnuzon, bahwa mereka berjuang meneliti langit berpuluh-puluh tahun bahkan beratus tahun secara estafet, dengan niat memajukan Islam dan menggapai Ridha Allah semata, guna membuka mata manusia yang dikeruhi oleh visi “abad kegelapan” menjadi terang benderang, demi memajukan masa depan. Warisan para astronom Muslim untuk dunia barat sudah tak terhitung lagi nilainya, dari mulai nama-nama bintang dalam bahasa Arab, teori peredaran Bumi Matahari dan Bulan, hingga istilah bagi sistem gerak teropong bintang; Azimuth dan Al-tazimuth. Oleh sebab itu alangkah ‘tak bersyukurnya’ jika kita tega mencemoohkan mereka, yang ternyata telah menemukan kebenaran, kendati masih jauh dari kesempurnaan karena ‘sempurna’ itu hanyalah milik Gusti Allah semata.
Berkat jasa-jasa mereka di abad-abad lampau, para astronom modern, atas izin Allah, telah mampu menentukan dengan tepat saat-saat Gerhana Matahari dan Bulan (yang telah sama-sama kita saksikan ketepatannya), perhitungan orbit Bumi dan planet lainnya sehingga kita telah mampu melepaskan robot-robot penjelajah (Spirit dan Opportunity) di daratan Mars yang saat ini masih menggelinding mencari sumber air di sana.
Perhitungan-perhitungan astronomis yang kita saksikan tepat ini, tak ayal lagi sebagai konklusi dari perhitungan gerakan Bumi, gerakan Matahari, gerakan Bulan, planet-planet dan sebagainya. Salah satu contoh misalnya; Sang Surya yang berdiameter 1.392.000 km, dan besarnya 1.303.600 kali Bumi kita, terus berlari mengedari pusar galaksi Bimasakti (Milky Way) dengan kecepatan 2150 km perdetik. Bumi mengelilingi Sang Surya dengan falaq yang sedikit ellips, terjauh 152.100.000 km dan terdekat 147.100.000 km, dan bergulir dengan poros yang miring (231/2 derajat) pada arah yang tegak, sehingga memunculkan berbagai musim! (Sunatullah). Oleh karena itu, alangkah disayangkan jika ada orang yang menandaskan bahkan memastikan bahwa Bumi kita itu diam tak begerak seingsutpun, kendati sebagai acuannya adalah Al-Qur’anul Karim sebagai Kitabullah yang amat sempurna. Mengapa demikian? Karena menterjemahkan lebih-lebih lagi menafsirkan Kitab Suci itu tidak semudah mencomot tuturan aksaranya belaka, sebab selain ada ayat-ayat yang nyata (muhkamat), tak sedikit yang memiliki nilai-nilai metafor (mutasyabihat) yang perlu dikaji kembali secara mendalam (seperti kata-kata Sang Surya bergeser dari timur ke barat, yang menandakan bahwa nilai puitik Al-Qur’an itu sangat tinggi dan indah). Belum lagi penterjemahannya yang salah, karena manusia (penterjemah) sepintar apapun tetap saja tak luput dari kesalahan!
Agaknya perlu kita ulangi kembali, bahwa berkat masyarakat (menjelang lahirnya Nabi Isa as.) menerima teori tentang alam raya dari seorang tokoh Nasrani buhun, Claudius Ptolomeous, yang menandaskan bahwa Matahari mengelilingi Bumi, maka perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, menjadi buntu. Karena fihak Gereja begitu kokoh meyakini kebenaran teori Ptolomeous, maka kebuntuan ilmu pengetahuan tak henti berlangsung hingga ratusan tahun lamanya; sehingga astrologi (penujuman menggunakan bintang-bintang) akhirnya tumbuh dengan suburnya!
Terhentinya perkembangan ilmu pengetahuan, memiliki arti bahwa manusia terjerumus pada jurang kebodohan. Para ilmuwan barat menjuluki masa prihatin tersebut dengan istilah: “Abad Kegelapan”. Namun dalam situasi fikir demikian kacaunya, nun jauh di tengah padang sahara yang gersang, di tengah masyarakat superbodoh, lahirlah seorang pemimpin pembaharu, Muhammad saw, nabi dan rasul pamungkas agama langit. Mulai saat itulah ilmu pengetahuan berkembang di gurun gersang, termasuk ilmu astronomi, yang akhirnya memberikan semangat dan inspirasi pada dunia barat yang pada saat itu ilmu pengetahuannya tengah terpuruk sehingga lunglai dalam kegelapan, berkat kepercayaan fanatik yang tak bedasar bahwa Matahari menglilingi Bumi.
Oleh sebab itu amat disayangkan –mudah-mudahan tidak termasuk Anda- jika ada orang yang memanfaatkan ayat-ayat Qur’an yang demikian suci dan mulia itu, untuk membela kekeliruan ilmu, seperti produk ilmu yang dicanangkan Ptolomeous tersebut.
Saudaraku Ahmad sabiq yang saya cintai. Sehubungan dengan kenyataan di atas, maka saya meragukan bahwa Teori Ptolomeous yang Anda yakini itu akan mampu memprediksi saat-saat gerhana secara tepat, bahkan menentukan awal atau akhir Ramadhan sekalipun (secara hisab) boleh dibilang pasti akan meleset jauh!
Selanjutnya, dengan kerendahan hati pula saya ingin mencoba mengomentari beberapa masalah yang tertulis di halaman buku Anda, apakah merupakan pendapat Anda sendiri atau pendapat orang lain sebagai referensi.

- Hal-69. Anda menandaskan bahwa sekolah-sekolah sekarang mengajarkan (membenarkan) teori Heliocentris, yang mengatakan bahwa Matahari adalah pusat alam semesta! Jawaban saya, pada kenyataannya, sekolah-sekolah abad ini tidak mengajarkan(membenarkan) bahwa Matahari itu adalah pusat alam semesta (Heliocentris). Yang diajarkan adalah, bahwa Matahari merupakan salah sebuah bintang dari sekian milyar (Cuma Allah Yang Mahatahu jumlahnya) bintang yang terhimpun di galaksi Bimasakti (Al-Buruuj atau galaksi/benteng yang tinggi), dan Bumi mengedari Matahari. Heliocentris sendiri telah lama tumbang setelah peralatan canggih mulai dioperasikan dan fikiran manusia bertambah maju. Jika Heliocentris masih diyakini saat ini, itu merupakan kesalahan guru semata-mata!
- Hal-83 dan 88. Jawaban saya, Bumi belum tentu terletak di tengah langit, namun di emperan galaksi Bimasakti. Anda mengikuti pendapat seorang ulama yang memperkirakan bahwa jarak Bumi ke langit ketujuh adalah 126 juta Km. Ini terlampau pendek, sebab menurut perhitungan terakhir sebagai hasil dari pelacakan pesawat jelajah (Voyager) yang mengarungi Solar Sistem hingga ke planet ke-sepuluh Xena (setelah Pluto), bentangan system Matahari kita terbukti lebih dari 6 (enam) milyar tahun! Ini baru bentangan “Solar System” yang menurut kacamata alam raya cuma merupakan nohtah kecil! Kalau tebal langit hanya 126 juta km, di manakah gerangan galaksi-galaksi (buruuj) yang banyak itu harus diletakkan? Belum lagi Supergalaksi bahkan Hypergalaksi?
Terkait dengan hal di atas, syogianya hati-hati pula menerjemahkan kata sab’a samaawaat (harafiah: tujuh lapis langit), sebab istilah sab’a tak menyatakan bilangan tujuh atau seven. Bangsa Arab menggunakan istilah sab’a untuk sesuatu yang berjumlah banyak atau lebih dari satu, sebagaimana halnya kita mengucapkan “celaka tigabelas”, yang artinya bukan tigabelas kali celaka!
- Judul Matahari Mengelilingi Bumi terus-terang saja amat mengejutkan diri saya. Sebab, bagaimana mungkin Matahari yang besarnya 1.303.600 kali Bumi dan massanya 300.000 kali Bumi, mengedari planet kerdil semacam pemukiman kita?
Bahkan tak terbayangkan betapa cepatnya, jika Matahari yang berjarak cukup jauh itu, mengelilingi Bumi hanya dalam waktu 24 jam? Sedangkan dengan kecepatan 29,79 km perdetik, Bumi mengedari Matahari menghabiskan waktu satu tahun lamanya! Jadi, jika benar Matahari mengelilingi Bumi dalam waktu sehari-semalam, dia harus memiliki kecepatan orbit 365 x 29,79 kilometer perdetiknya.
- Hal-106. Sebagai salah satu argumen Qur’ani, anda menyodorkan Surat Fathir (35):41 yang Anda artikan: “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser, dan sungguh jika keduanya akan bergeser tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia itu maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” Pertanyaan saya, apakah benar An-tazuulaa artinya supaya jangan bergeser? Atau dalam konteks ini lebih tepat diartikan supaya tidak lenyap? Fathir(35) ayat-41.
- Hal-107. Anda mengajukan Ar-Rum (30):25 yang Anda artikan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah berhentinya langit dan bumi dengan seizinnya.” Petanyaan saya, an-taquuma dalam surat Ar-Rum (30):25 diartikan berhenti bagi Bumi dan langitnya. Apakah tidak lebih cocok kalau artinya “bahwa berdiri”?
- Hal-110. Mohon dibedakan kata “bergerak dan berotasi” dengan “bergoncang”. Diciptakan gunung-gunung di Bumi sebagai pasak, bukan supaya Bumi tidak begerak-berotasi (diam), namun agar Bumi tidak bergoncang (supaya gerakan rotasinya stabil). Goncangan Bumi yang besar, seperti halnya akibat dari percobaan Bom Nuklir misalnya, akan mempengaruhi kestabilan alam semesta yang meluas, rembet-merembet pengaruhnya jauh ke luar planet Bumi.
- Hal-121: Tidak ada astronom moderen yang menandaskan bahwa Matahari itu diam sebagaimana dituduhkan oleh saudara. Para astronom masa kini berpendapat bahwa Matahari bergerak sambil berotasi. Bahkan saya sendiri kerap menyaksikan Matahari berotasi pada sumbunya dengan melihat “noda surya” yang beringsut terus letaknya. Selanjutnya saya sendiri pernah menyaksikan planet Merkurius yang begerak mengeliling matahari, sebagai bintik hitam yang bergerak (kesimpulan dari pelacakan beberapa waktu), dengan menggunakan teropong bintang catadioptric bermerek Celestron 8 inci. Hal ini membuktikan bahwa planet Merkurius itu mengedari Matahari!
- Selanjutnya, bukti yang paling cepat terlacak bahwa Bumi mengedari Matahari selama 24 jam, bisa Anda rasakan tatkala Anda menyaksikan langit lewat telescope. Gerakan benda langit yang kita lihat dari sisi eyepiece ke sisi eyepiece lainnya, sama saja tatkala kita melihat Bulan, planet atau bintang-bintang; ialah gerakan yang disebabkan oleh rotasi Bumi! Jika Anda tidak percaya, dipersilahkan mampir di sanggar saya, Protagon, Jl. Cihuni No.90 Bukit Dago Pakar Timur Bandung. Telp. 022-2508822.
- Hal-124. Dalam ayat ke-5 Az-Zumar (39), dikatakan, “masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan”. Ini ditujukan bukan Cuma untuk Matahari dan Bulan saja, namun juga untuk Bumi, bahkan mungkin untuk langit; karena kini diketahui bahwa langitpun mengembang dengan cepatnya, yang nanti akan “dilipat” kembali! (bahasa metafor).
- Saya tambahkan pula bahwa, jika dikatakan Matahari berpasangan dengan Bulan, memang Matahari termasuk feminine gender dan Bulan termasuk Masculine gender. Matahari memberikan sinar terang, dan Bulan menerima sinar tersebut seraya dipantulkan kembali sebagai cahaya yang benderang syahdu.
- Hal-126. Pada halaman ini ada yang cukup menarik dari cuplikan Hadits Abu Dzar: “Sesungguhnya matahari itu berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dia bersujud”. Nah, jika seandainya Matahari Cuma berulang-ulang mengedari Bumi saja sebagaimana yang Anda yakini, maka hingga kiamatpun Matahari tak akan sampai ke bawah Arsy. Namun jika Matahari mengedari pusar galaksi Bimasakti, dan Bimasaktikpun mengedari pusar Super-galaksi (himpunan galaksi-gakasi), dsb, maka hadits ini cukup mendukung teori dari astronomi modern, dan tidak bagi astronomi a’la Ptolomeous.
- Ayat yang cukup mendukung bahwa Bumi itu berotasi pada porosnya ialah, An-Naml ayat 88 yang artinya:
“Dan engkau melihat gunung-gunung, engkau kira bahwa dia tetap (tiada bergerak), padahal dia berjalan kencang sebagai awan berjalan. (Begitulah) perbuatan Allah, yang membuat segala sesuatu dengan kokohnya; sesungguhnya Dia mengetahui betul apa yang kamu kerjakan.
- Hal-138. Pada halaman ini Anda menggunakan pendapat Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid dalam bukunya Hidayatul Hairan fi Mas’alatid Dauran (Petunjuk bagi orang-orang bingung tentang masalah peredaran Matahari dan Bumi). Dalam buku ini Syaikh Abdul Karim menuduh bahwa orang yang mempercayai bahwa Bumi mengelilingi Matahari adalah orang-orang bingung yang mengambil ilmu dari orang-orang kafir (pendapat yang bathil).
Saudaraku! Jangan-jangan, justru Sang Syaikh-lah yang bingung itu! Merasa paling beriman kepada Allah dan Rasulnya, namun memper-memper “ulama jumud” yang tak mau menerima kemajuan ilmu pengetahuan! Padahal, amat berdosa jika seseorang apalagi pangkat ulama, yang keadaan pengetahuannya sama (stagnasi) antara kemarin, kini dan esok! Padahal ulama yang baik adalah ulama yang akhlaknya mencontoh Nabi akhir zaman; tidak merendahkan orang lain, bertoleransi pendapat, dan tidak tinggi hati (tawadhu). Atau mungkin saja Sang Syaikh menyangka bahwa Matahari tubuhnya lebih kerdil ketimbang planet Bumi yang kini kita diami. Matahari (as-Syams) sebagai salah satu bintang dari “sekian milyar” (jumlahnya cuma Gusti Allah yang Mahatahu) bintang yang bermukim di galaksi Bimasakti (Al-Buruuj) memang bukan bintang yang paling besar, namun Bumi tempat kita berada hanyalah perupakan planet kecil, yang saking kecilnya mudah saja “nyeplos” ke dalam nohtah Matahari.
Memang benar Matahari – tampak oleh mata telanjang, setiap pagi terbit dari ufuk timur dan berjalan ke arah barat. Namun tidakkah kita berusaha mencari alasan hakikiahnya, mengapa tampak seperti itu? Jawabannya tak cukup dengan menggunakan acuan ayat-ayat kauliyah belaka, namun syogianya didukung oleh penelitian dan perhitungan yang logis. Bukankah kata Qur’an sendiri, yang kita lihat sehari-hari itu merupakan tipuan belaka? Bukan hakiki! Bukan pula kenyataan yang sebenarnya? Sebab jika kepercayaan kita hanya disebabkan sebatas kekasatan mata belaka, maka sama saja kita kembali menjadi anak kecil yang masih belajar mengenal benda-benda yang sederhana, tak membutuhkan “akal”, tak membutuhkan kebijaksanaan yang luhur, tak membutuhkan kearifan sebagaimana manusia dewasa, apalagi kearifan seorang ulama (ilmuwan) yang dengan sungguh-sungguh mengadakan penelitian dengan dukungan multi-dimensi ilmu! Padahal Allah Yang Mahakreatif berulang-ulang menyuruh kita menggunakan “akal-sehat” di dalam menemukan ilmu-ilmu baru, seraya tidak jumud, tidak suudzon atas pendapat orang lain!
Lebih-lebih lagi alangkah tidak tepatnya seandainya kita mengacu pada pendapat para fuqoha, padahal yang tengah kita bahas adalah masalah-masalah sains dan teknologi, misalnya seputar kosmologi, astronomi, dsb. Ini tantangan bagi kita semua, agar Islam tak dinodai oleh kejumudan para pemeluknya.
- Hal-139. Untuk membuktikan bahwa secara global awan terbawa gerakan Bumi
disebabkan pengaruh gravitasi, maka Anda syogianya naik pesawat ulak-alik ke angkasa atau ngedompleng ke satelit yang tengah menglilingi Bumi kita, sebab ilmu pengetahuan jangan dikira-kira. Dan gerakan awan yang tampak sehari-hari oleh kita dari Bumi, itu cumalah “gerakan internal kebumian” dikarenakan tiupan angin atau alas an lain! Jadi, gerakan pesawat terbang pun yang kita lihat sehari-hari itu merupakan gerakan internal kebumian.
Mengapa kita merasa diam, padahal Bumi secara global tengah berotasi dengan kencangnya? Justru disinilah letak kedahsyatan sunatullah (hukum allah) yang tak mungkin dikaji oleh otak-otak kerdil kendati menggunakan ilmu gravitasi sekalipun! Yang jelas, sambil bengong kita hanya mampu mengucapkan: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Namun kendati demikian, boleh-boleh saja kan saya menyumbangkan secuil persamaan atau contoh yang amat sederhana; ialah jika misalnya tubuh kita tiba-tiba dibesarkan 10 kali lipat oleh Sang Mahapencipta, berbareng dengan pembesaran (10 kali) benda-benda yang ada di sekeliling kita, apakah itu busana yang kita pakai, jam tangan kita, rumah kita beserta segala isinya, dsb, maka kita tak akan menyadari bahwa tubuh kita telah dibesarkan oleh Allah Swt. 10 kali lipat! Tapi, setelah kita menengok ke luar rumah lewat jendela rumah kita, baru kita sadar bahwa kita telah membesar 10 kali lipat, berkat membandingkannya dengan pohon-pohon yang tetap kecil, rumah orang lain yang tetap kecil, dsb. Itulah dia “jendela ilmu” yang menyadarkan hakekat kita! Hal ini sama saja dengan ketika kita melihat dengan mata telanjang Matahari bergerak dari timur ke barat. Lantas dengan mudah kita “menyangka” bahwa Matahari mengelilingi Bumi! Padahal, jika Anda menyaksikan langit di waktu malam dengan seksama, semua benda-benda langit akan kita lihat bergerak dari Timur ke Barat (seperti tatkala kita menyaksikan Matahari bergerak dari timur ke arah barat), termasuk Bulan, planet-planet atau bintang-kemintang! Apakah ini menandakan bahwa semua benda-benda tersebut mengelilingi Bumi kita? Toh tidak demikian bukan?
Tipuan pandang seperti inilah yang menyebabkan munculnya Teori Geocentris yang membikin abad menjadi gelap karena tak tersinari Cahaya Allah; ialah Cahaya di atas cahaya! Ptolomeous dengan mudah saja berteori bahwa semua benda-benda langit itu mengelilingi Bumi, termasuk Matahari! Dan yang menentang teori ini langsung dikejar-kejar untuk dimusnahkan oleh orang-orang Nasrani yang taqlid pada Ptolomeous! Memang menyedihkan! Tradisi jahiliyah!
Selanjutnya, saya ingin bertanya, pernahkan Anda mencoba mengayunkan (sirkular ke segala arah) sekaleng air secara kencangnya dengan menggunakan tautan tambang? Wow, airnya tak jatuh muncrat ke luar kan? (berkat hukum keseimbngan). Maka saya tak mampu membayangkan jika tiba-tiba Bumi kita dihentikan gerak rotasinya oleh Sang Mahapencipta Yang Mahaagung! Mungkin saja akan muncul katastrophe yang tak terperikan, bukan saja pada Bumi dan seisinya, namun juga pada planet-planet lainnya; karena gerakan benda-benda angkasa itu saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain (Sunatullah). Mudah-mudahan itu terjadi di hari Kiamat saja!
Selain menggunakan teropong bintang, sebenarnya tak terlampau sulit untuk membuktikan bahwa Bumi kita berotasi pada porosnya. Arahkan kamera foto kita yang kita letakkan pada tripod, sejajar dengan sumbu rotasi bumi ke sebuah bintang yang letaknya tertotok sumbu tersebut (biasanya bintang tersebut tampak oleh mata kita tidak berpindah atau bergeser). Biarkan diafragma terbuka terus selama beberapa jam dengan menggunakan kecepatan 1/B. Hasil foto yang akan didapat merupakan jalur-jalur sirkular dari bintang-bintang (star-trail) sebagai dampak dari perputaran Bumi kita pada porosnya.
Hal-141. Saya baca bab yang berjudul: Jangan Pertahankan Teori Bumi Mengelilingi Matahari!!! Maaf, sejuta kali judul ini dituruti orang, kenyataannya Bumi kita akan tetap saja mengedari Matahari, kecuali jika pada saat tertentu nanti, Allah Yang Mahakuasa menginginkan yang sebaliknya. Atau, kecuali jika kita ingin menobatkan diri kita menjadi baladnya Ptolomeous, Sang Gerejawan legendaris yang berfikir dengan menggunakan logika-logika Trinitas!
Akhirnya, saudaraku Ahmad Sabiq yang saya cintai! Kita ini merupakan makhluk-makhluk kecil yang penuh dengan kelemahan dan kebodohan. Tentu saja akan banyak kesalahan fatal pada sumbangsih ilmu yang saya haturkan buat Anda. Ambillah yang sesuai dengan Qur’an Suci, dan buanglah jika sekiranya bertentangan dengan Kalam Ilahi. Namun jangan sekali-kali mencemoohkan penelitian ilmu, karena meneliti ilmu merupakan kewajiban seorang muslim yang mencari kebenaran; tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China! Buku yang Anda tulis ini semoga membawa hikmah bagi kita semua, minimal akan menyadarkan bahwa kita merupakan makhluk “Hyper Bodoh” di hadapan Gusti yang telah menciptakan alam semesta raya dengan penuh pesona! Aaamiin!
Was.Wr.Wrkth.
Dedy Suardi
Jl. Cihuni No.90 Ciburial Bukit Dago Pakar Timur, Bandung. Telp.022-2508822.
Dari angkasa-raya, astronaut melihat bahwa awan-awan itu bergerak global mengikuti rotasi Bumi kita.
Foto-foto Star-Trail yang membuktikan bahwa Bumi kita selain mengedari Matahari, berotasi pada porosnya, yang sekali rotasi lamanya 24 jam. Matahari yang tampak bergerak dari timur ke barat disebabkan oleh rotasi Bumi tersebut ke arah sebaliknya! Silahkan, siapa pun bisa mencoba!

ANJURAN BAGI SETIAP ORANG YANG BERAGAMA ISLAM!
Mohon tidak cepat-cepat mengkafirkan fihak lain! Di sisi Allah ‘azzawajalla mereka sama dengan kita!
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dan Shabiin, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat dan mengerjakan perbuatan baik, mereka akan memperoleh upah (pahala) dari Tuhannya; mereka tidak merasa ketakutan dan tidak menaruh dukacita.
Al-Baqarah: 62
Bagi sesama ummat Islam! Tolong Al-Qur’an itu jangan dicamkan sepotong-sepotong! Kasian toh, Kitab Suci yang begitu sempurna, dipilih-pilih ayatnya demi kepentingan pembenaran pendapat pribadi yang sempit!
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Dedy Suardi
Tolong juga dibaca Surat Al-Ambia: ayat 69
Terimakasih,
Dedy Suardi- Sanggar Protagon